Halo teman-teman.......apakah kalian sehat sehat saja?
kesehatan merupakan karunia yang sangat berhaga pemberian tuhan jadi kalian harus bersyukur yah....

Kali ini saya akan membahas mengenai Contoh Makalah Penyakit Kusta/Lepra.Semoga bermanfaat bagi teman teman yah!!! Selamat membaca teman-teman



Makalah Penyakit  Kusta 






BAB I PENDAHULAN

1.1 Latar Belakang

          Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti oleh masyarakat, keluarga termasuk juga petugas kesehatan. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya pengetahuan maupun pemahaman serta kepercayaan yang keliru terhadap penyakit kusta dan cacat yang ditimbulkannya. Meskipun penyakit kusta saat ini dapat disembuhkan bukan berarti Indonesia sudah terbebas dari masalah kusta. Hal ini disebabkan karena dari tahun ke tahun masih ditemukannya sejumlah kasus baru
World Health Organization (WHO), mencatat awal tahun 2012 dilaporkan dari 115 negara di dunia, prevalensi kusta baru yang terdaftar secara global sebanyak 232.857 kasus dan pada empat bulan pertama tahun 2013 jumlah kasus yang tercatat yaitu 189.018 kasus.Indonesia menduduki urutan ketiga setelah India dan Brazil dengan jumlah penderita kusta sebanyak 20.023 kasus. Pada Tahun 2012 dilaporkan ada 18.994 kasus. (Titi Nur Idayani, 2017)
          Kusta baru di Indonesia dan  2.131  penderita (11,2 %) diantaranya ditemukan sudah pada cacat tingkat 2,  yaitu cacat yang kelihatan. Sedangkan 2.191 penderita (11,5%) adalah anak-anak (Riyanto, 2015).  Pada tahun 2015  prevalensi penderita kusta di Indonesia sebanyak 0,78 per 1000 penduduk sehingga jumlah penderita yang dilaporkan sekitar 20.160 kasus. Prevalensi ini akan terus meningkat karena adanya stigma yang berkembang dimasyarakat yang membuat penderita kusta malu untuk mencari pengobatan. (Nursanti Anwar, 2019)
          Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan telah menetapkan 33 provinsi di Indonesia kedalam 2 kategori beban kusta, yaitu provinsi dengan beban kusta tinggi jika New Case Detection Rate (NCDR)>10 per 100.000 penduduk atau jumlah kasus baru lebih dari 1.000 penduduk dan beban kusta rendah jika NCDR <10 per 100.000 penduduk atau jumlah kasus baru kurang dari 1.000 kasus. (Titi Nur Idayani, 2017)
          Kusta merupakan salah satu penyakit tertua di dunia yang hingga saat ini masih menjangkit pada jutaan orang di seluruh dunia. Bakteri penyebab kusta ini ditemukan oleh seorang ilmuwan bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen berasal dari Norwegia pada tahun 1873. (Rini Lestari, 2017)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Penyakit

         Kusta adalah suatu penyakit infeksi granulomatosa menahun yang disebabkan oleh organisme intraseluler obligat Mycobacterium leprae. Awalnya, bakteri ini menyerang susunan saraf tepi, lalu kulit, mukosa, saluran nafas, sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang, dan testis. (Titi Nur Idayani, 2017)
          Awalnya kuman ini menyerang antara lain susunan saraf tepi, kemudian menyerang kulit, mukosa, saluran pernapasan, sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang, dan testis, kecuali susunan saraf pusat. Kusta disebut juga Morbus Hansen merupakan penyakit yang menyerang kulit maupun saraf yang disebabkan oleh infeksi microbacterium leprae. Kusta berasal dari bahasa sansekerta yaitu Kusta yang artinya kumpulan gejala penyakit kulit secara umum (Indra, 2019)
Penyakit kusta merupakan penyakit menular yang kompleks, bukan hanya dari segi medis tetapi meluas hingga masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta umumnya terjadi di negara yang berkembang akibat layanan kesehatan terbatas, pendidikan, sosial dan ekonomi masyarakat. (Jati Kurniawan, 2017)
          Penyakit kusta merupakan penyakit yang unik, hal ini disebabkan karena kusta dapat mengalami suatu periode yang dinamakan dengan reaksi dan dapat juga menimbulkan kecacatan yang  permanen. Kecacatan yang permanen dapat terjadi apabila penderita kusta ditemukan sudah dalam keadaan cacat tingkat II. Tetapi apabila kusta ditemukan secara dini maka risiko kecacatan yang permanen dapat dihindari. (Cucu Hendrawati, 2018)

2.2 Frekuensi

A. berdasarakkan jenis kelamin



  Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa  penderita kusta banyak dialami oleh jenis kelamin laki laki. Selain itu penderita Kusta tiap Tahun mengalami penurunan baik jenis kelamin laki laki maupun perempuan.

2.3 Distribusi
A. Penyakit Kusta Berdasarkan Orang

a. golongan umur



          Berdasarkan  Tabel diatas jumlah kasus dominan pada gologan usia produktif umur  >24≤44 serta dapat terjadi pada semua umur baik anak- anak, dewasa dan lansia.

b. Jenis Kelamin


          Berdasarkan Tabel diatas menunjukan bahwa penderita kusta didominasi berjenis kelamin laki laki lebih banyak dibandingkan penderita kusta berjenis kelamin perempuan. Hal tersebut berhubungan dengan perawatan diri seseorang, penderita kusta berjenis kelamin laki-laki kurang memperhatikan kesehatannya dibandingkan dengan perempuan dan mengobati sakitnya ketika kesehatannya sudah memburuk. Kejadian kusta pada perempuan kemungkinan karena faktor lingkungan atau faktor biologi. Seperti penyakit menular lainnya laki-laki lebih banyak terpapar dengan faktor risiko sebagai akibat gaya hidupnya.

c. Pendidikan


          Berdasarkan tabel diatas menunjukna bahwa penderita kusta didomonasi oleh Orang yang tidak bersekolah. Tingkat pendidikan mempengaruhi sesorang dalam pencarian pengobatan serta diagnosis penyakit, sehingga menyebabkan keccatan yang makin parah pada penderita.

d. Jenis Pekerjaan


Berdasarkan  tabel diatas menunjukan bahwa penyakit kusta banyak dialami oleh penangguran. Keterbatasan ekonomi menyebabkan pengobtatan penyakit kusta menjadi sulit. Hal ini menyebabkan  karena penurunan produktivitas pasca mengalami kusta maka berdampak pada ekonomi dari penederita

B. Penyakit Kusta Berdasarkan Waktu



          Dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan dan penurunan jumlah pasien rawat jalan kusta pada setiap bulannya. Pada tahun diamati yaitu tahun 2018, jumlah pasien rawat jalan kusta mengalami peningkatan yang tajam pada bulan November dan Desember masing-masing sebanyak 71 dan 85 orang.

C. Distribusi Berdasarkan Tempat



          Berdasarkan gambar  diatas menunjukan wilayah persebaran penderita kusta di Provinsi Jawa Timur digolongkan berdasarkan beban penyakit kusta menjadi tiga yaitu PR rendah, PR sedang dan PR tinggi.  Wilyah tinggi penderita kusta yaitu Tuban, Probolinggo, Sitobondo, Lumajang, Tuban, Bangkalan, Sumenep, dan Pasuruan.

2.4 Determinan
  Gordon dan La Richt (1950) dalam Tiimreck (2004) menyebutkan bahwa timbulnya suatu penyakit dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu host, agent dan  environment sehingga determinan penyakiy sangat berhunungan dengan segi tiga epidemiologi.

2.4.1 Agent
          Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat. Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh bateri Mycobacterium leprae yang menyerang kulit, saraf tepi di tangan maupun kaki, dan selaput lendir pada hidung, tenggorokan dan mata (Apriliana, 2017). Kuman berukuran panjang 1-8 micro, lebar 0,2 – 0,5 micro biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel dan bersifat tahan asam (BTA) atau gram positf(Pramudita, Nurullita, & Salawati, 2017).
MICROBACTERIUM LAPREA

          Bakteri kusta banyak terdapat pada kulit tangan, daun telinga, dan daun mukosa. Bakteri ini mengalami proses pembelahan antara 12-21 hari. Mycobacterium leprae masuk ke dalam tubuh, setelah itu menuju sel pada saraf tepi. Kuman berkembang biak didalam sel, sel tersebut pecah dan kemudian menginfeksi sel yang lain atau ke kulit. Daya tahan hidup kuman kusta mencapai 9 hari diluar tubuh manusia. Kusta memiliki masa inkubasi 2-5 tahun bahkan juga dapat memakan waktu lebih dari 5 tahun (Pramudita et al., 2017)
          Kuman kusta dapat bertahan hidup pada tempat yang sejuk, lembab, gelap tanpa sinar matahari sampai bertahun-tahun lamanya. Kuman Tuberculosis dan Leprae jika terkena cahaya matahari akan mati dalam waktu 2 jam. Selain itu, seperti halnya bakteri lain pada umumnya, akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan kelembapan yang tinggi. Kelembaban udara yang meningkat merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri pathogen termasuk yang memiliki rentang suhu yang disukai, merupakan bakteri mesofilik yang tumbuh subur dalam rentang 25-40 ͦ C, tetapi akan tumbuh secara optimal pada suhu 31- 37 ͦ C(Apriliana, 2017)

2.4.2 Host
          Mycobacterium leprae dapat menularkan pada 10- 15 orang, dimana seseorang penderita rata-rata dapat menularkan kepada 2-3 orang di dalan rumahnya.(Apriliana, 2017).

2.4.3 Lingkungan
          Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di luar diri host baik benda mati, benda hidup, nyata atau abstrak. Seperti, suasana yang berbentuk akibat interaksi semua elemen-elemen termasuk host yang lain. Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan non fisik, lingkungan fisik terdiri dari: keadaan geografis (daratan tinggi atau rendah, persawahan dan lain-lain), kelembapan udara, suhu, lingkungan tempat tinggal. Adapun lingkungan non fisik meliputi: sosial (pendidikan, pekerjaan), budaya (adat, kebiasaan turun menurun), Ekonomi(Apriliana, 2017).


BAB III PEMBAHASAN

3.1 Status Sosial
          Penyakit kusta mempunyai pengaruh yang luas pada kehidupan penderita mulai dari perkawinan, pekerjaan, hubungan antar pribadi kegiatan bisnis dilingkungan masyarakat. Bukannya hanya dari segi medis, tetapi meluas sampai masalah sosial. Kurangnya pengetahuan terhadap penyakit kusta menyebabkan masyarakat menajuhi serta merasa jijik  dan takut terhdap penyakit kusta hal itu menyebabkan secara spontan penderita kusta mengalami pengasingan.

          Di era modern ini muncul istilah “stigmatisasi” yang lebih menceriminkan kelas daripada fisik. Proses inilah yang membuat penderita kusta terkucilkan dari masyarakat, dianggap menjijikan dan harus dijauhi.

3.2 Lingkungan
          Berdasarkan study pendahuluan yang dilakukan pada penderita kusta, sebagian besar penderita kusta berada pada tingkat ekonomi lemah dengan sanitasi lingkungan yang kurang dan masyarakat yang kurang memahami pentingnya kebersihan lingkungan. Karena kebersihan lingkungan menjadi faktor lain penyebab Kusta. Selain kuman daerah yang kumuh dan terbatas akan fasilitas air bersih juga dapat menjadi penyebab penyakit ini (S, Wanci, & Syahridha, 2019)
          Selain itu kondisi rumah/ruangan yang dihuni oleh banyak orang dan tidak sebanding dengan luas kamar akan memberikan dampak bagi penghuninya yaitu membuat rumah menjadi sempit selain hal itu apabila dalam suatu rumah tersebut terdapat anggota keluarga yang terkena penyakit maka penularan penyakit tersebut akan sangat mudah menular ke anggota keluarga yang lain akibat seringnya kontak fisik dengan si penderita. Maka dari itu lingkungan juga dapat menjadi salah satu penyebab penyakit kusta (Wulansari, Thohari, & Nerawat, 2020)
          Kelembapan udara yang tinggi juga dapat mempengaruhi kondisi kesehatan bagi penghuninya dan menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering sehingga Mycobacterium leprae dapat muncul dan hidup dalam keadaan sekret hidung yang kering dengan kelembapan 77,6%. Rumah yang tidak memiliki ventilasi yang memadai dan tidak memiliki ventilasi dapat meningkatkan kelembapan didalam ruangan. Hal ini mengakibatkan tidak adanya pertukaran antara udara yang bersih dengan yang kotor sehingga ruangan menjadi pengap dan memudahkan Mycobacterium leprae dapat muncul dan berkembang dengan cepat (S, Wanci, & Syahridha, 2019)

3.3 Kepercayaan
           Melihat sejarah, penyakit kusta merupakan momok yang menakutkan bagi masyarakat dan keluarga penderita. Sejak zaman kuno kusta telah menjadi penyakit yang paling di benci, kusta lazim ada di berbagai daerah untuk jangka waktu tertentu sepanjang sejarah. Masyarakat merasa ketakutan terhadap efek yang ditimbulkan dari penyakit kusta sejak ribuan tahun, akibatnya muncul stigma telah tertanam terlalu dalam di jiwa masyarakat dan efeknya masih terlihat di seluruh dunia. Dampak psikologi yang dikaitkan dengan stigma sosial bahwa kusta adalah penyakit infeksi yang mematikan, stigma ini sering menjadi pengaruh yang menakutkan sehingga penderita enggan untuk melakukan pengobatan pada awal penyakit. Bahkan saat ini masih ada yang melakukan pengobatan kusta secara terpisah oleh karena stigma yang tertanam dari penyakitnya.
          Banyaknya masyarakat yang masih beranggapan bahwa kusta disebabkan olah kutukan, guna guna, dosa,  makanan ataupun keturunan. Sampai saat ini penyakit kusta masih ditakuti oleh sebagian besar masyarakat. Keadaan ini terjadi karena pengetahuan yang kurang, pengertian yang salah, dan kepercayaan yang keliru tentang penyakit kusta dan kecacatan yang ditimbulkannya. Padahal, berkat kemajuan teknologi pengobatan dan pemanfaatan teknologi komunikasi mutakhir, seharusnya penyakit kusta sudah dapat diatasi dan tidak menjadi masalah kesehatan lagi

3.4 Faktor Resiko
         Faktor Resiko yang menyebabkan  penederita mengakami kusta:
1. Ada kecenderungan penyebaran kusta berfluktuasi antar desa ;
2. Tingginya angka penderita kusta di kecamatan Sumberbaru disebabkan oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM), faktor kemiskinan yang berpengaruh terhadap pola hidup bersih dan sehat (PHBS), status gizi dan kepadatan rumah  dan kurang atau belum dipahaminya arti penting kebersihan lingkungan dan kurang dikenalnya tanda dan bahaya kusta oleh sebagian besar masyarakat ekonomi bawah
3. Tingginya angka penderita di Puskesmas Sumberbaru disebabkan oleh keterlambatan untuk melakukan pengobatan secara dini yang disebabkan rasa malu yang berlebihan para penderita dan keluarganya dan tidak melakukan regimen terapi secara efektif dalam pengobatan yang relatif lama dan terus menerus.

3.6 Pencegahan
          Salah satu masalah yang menghambat upaya penanggulangan kusta adalah adanya stigma yang melekat pada penyakit kusta dan orang yang mengalami kusta bahkan keluarganya. Stigma adalah pandangan negatif dan perlakuan diskriminatif terhadap orang yang mengalami kusta, sehingga menghambat upaya orang yang pernah terkena kusta dan keluarganya untuk menikmati kehidupan sosial yang wajar seperti individu Iainnya.
          Pencegahan penyakit kusta bertambah parah dapat dilakukam melalui pengobatandisini penyuluhan kesehatan memiliki peran penting kepada penderita untuk menganjurkan kepada penderita untuk berobat secara teratur.

a.      Pencegahan Primodial
         Pencegahan primodial yaitu pencegahan yang dilakukan jepada orang orang yang belum memiliki faktor resiko seperti penyuluhan.
b.      Pencegahan Primer (Primary Prevention)
         Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan seseorang yang telah memiliki faktor resiko agar tidak sakit. Tujuan pencegahan primer adalah untuk mengurangi kejadian penyakit dengan cara mengendalikan faktor-faktor resikonya
Untuk mencegah terjangkit penyakit kusta,dapat dilakukan dengan cara memperhatikan dan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, personal hygiene, deteksi dini adanya penyakit kusta dan segera memeriksakan diri jika merarasa perlu untuk memeriksakan diri ke puskesmas.
c.       Pencegahan Sekunder (Secondary Prevention)
          Pencegahan sekunder merupakan upaya pencegahan penyakit dini yaitu mencegah orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit dan menghindari komplikasi.  Pencegahan sekunder ini dapat dilakukan dengan mendiagnosis diagnosis dini dan pemeriksaan neuritis, Pencegahan penyakit kusta juga dapat dilakukan dengan meningkatkan higiene perorangan, diantaranya seperti pemeliharan kulit yaitu :
a. Mandi minimal 2 kali sehari serta menggunakan sabun anti bakteri,
b. Tidak menggunakan alat pribadi seperti handuk, sabun, pakaian dan alat makan secara bergantian dengan anggota keluarga yang lain
c. Memiliki kebiasaan menjemur handuk dibawah terik matahari
d. Menjaga kebersihan rambut seperti mencuci rambut minimal 2 kali dalam seminggu serta memakai shampoo
e. Menjaga kebersihan tangan dan kuku, kuku harus dalam keadaan pendek dan bersih karena kuku dan tangan yang kotor dapat menimbulkan bahaya kontaminasi ke makanan karena berpindahnya kumankuman pembawa penyakit yang berasal dari tubuh, feses, maupun sumber lainnya. Selain itu pencucian tangan dengan baik dan benar dapat mencegah kontaminasi pada makanan, akan tetapi kegiatan ini sering disepelekan dan masih banyak orang yang kurang mengerti tentang penerapan pencucian tangan (Yuni,2015).
d. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier dimaksudkan umtuk mengurangi kemajuan atau komplikasi penyakit yang sudah terjadi, merupakan sebuah aspekterapatika dan kedokteran rehabiltasi yang paling penting. Pencegahan tersier merupakan usaha pencegahan terakhir yang terdiri dari:

1. Rehebilitasi medic
Diperlukan pencegahan cacat sejak dini dengan disertai pengolahan yang baik dan benar. Untuk itulah diperlukan pengetahuan rehabilitasi medik secara terpadu. Mulai dari pengobatan, psikoterapi, fisioterapi, perawatan luka, bedah rekontruksi dan bedah septic, pemberian alas kaki, serta terapi okupasi.(Apriliana, 2017)
Perawatan terhadap reaksi kusta mempunyai 4 tujuan:
a. Mencegah kerusakan saraf, sehingga terhindar dari gangguan sensorik, paralis dan kontruaktur.
b. Hentikan kerusakan mata untuk mencegahan bantuan.
c. Kontrol nyeri.
d. Pengobatan untuk memastikan basil lepradan mencegah perburukan keadaan penyakit(Apriliana, 2017).

2. Rehabilitasi nonmedik
Meskipun penyakit kusta tidak banyak menyebabkan kematian. Namun, penyakit ini termasuk penyakit yang paling ditakuti diseluruh dunia. Penyakit kusta itu sendiri, keluarga, dan masyarakat. Terdapat dua jenit cacat penyakit kusta, yaitu cacat psikososial dan cacat fisik.

3. Rehabilitasi mental
Penyuluhan Kesehatan berupa bimbingan mental, harus diupayakan sedinimungkin pada setiap penderita, keluarganya, dan masyarakat sekitarnya. Untuk memberikan dorongan dan semangat agar mereka dapat menerima kenyataan ini. Selain itu agar penderita segera mulai menjalani pengobatan dengan teratur dan benar sampai dinyatakan sembuh secara medis. (Apriliana, 2017).

4. Rehabilitasi karya
Upaya rehabilitasi karya ini dilakukan agar penderita yang sudah terlanjut cacat dapat kembali melakukan pekerjaan yang sama, atau dapat melatih diri terhadap pekerjaan baru sesuai dengan tingkat cacat, pendidikan dan pengalaman bekerja sebelumnya. Penempatan di tempat kerja yang aman dan tepat akan mengurangi risiko berlanjutnya cacat penderita kusta(Apriliana, 2017).

5. Rehabilitasi social
Rehabilitasi sosial bertujuan memulihkan fungsi ekonomi penderita. Hal tersebut sangat sulit dicapai oleh penderita sendiri tanpa partisipasi aktif dari masyarakat di sekitarnya. Rehabilitasi sosial bukanlah bantuan sosial yang harus diberikan secara terus menerus melainkan upaya yang bertujuan untuk menunjungkan kemandirian penderita(Apriliana, 2017).

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit kusta merupakan penyakit menular. Tetapi cara penularannya tidak mudah dan masa penularannya lama. Penularan penyakit kusta terjadi dengan adanya kontak langsung dengan penderita akan tetapi membutuh kan waktu yang lama. Penyakit memebuat penderita mengalami kecacatan dikarenaka bakteri yang menyerang saraf penderita. Diagnosis dini dapat menurunkan faktor resiko penyakit kusta.
Sesorang yang tinggal dengan kondisi lingkungan yang tidak bersih, fasilitas kebersihan yang tidak memadai dan asupan gizi yang buruk sehingga menyebabkan daya tahan tubuh rendah. Rentan terhadap penyakit infeksi seperti kusta.
B. Saran


DAFTAR PUSTAKA
Chin, James. “Manual Pemberantasan Penyakit Menular Edisi 17, terj. Dr. I Nyoman Kandun, MPH. 2016
Cucu Hendrawati, S. (2018). Apakah Upaya Pencegahan, Faktor Penyakit dan Faktor Individu Mempunyai Dampak Terhadap Cacat Tingkat II Kusta. Jurnal Ilmiah Indonesia, 45-53.
Indra, d. (2019). Hubungan Personal Hygiene dan Kebiasaan Minum Obat Penderita Kusta Di Wilayah Kerja Puskesmas Lebiti Kecamatan Togean Kabupaten Tojo Una-Una. Jurnal Unismuh Palu, 63-73.
Jati Kurniawan, d. (2017). Analisis Spasial Kejadian Kusta Di Kabupaten Blora. BKM Jurnal, 6-10.
Nursanti Anwar, S. (2019). Pengaruh Stigma Masyarakat terhadap Perilaku Pasien Kusta dalam Mencari Pengobatan: Sebuah Tinjauan Sistematis. Jurnal Ners dan Kebidanan, 173-181.
Rini Lestari, d. (2017). Faktor Risiko Kejadian Penyakit Kusta Di Kota Palu. 614-620.
S, S., Wanci, R., & Syahridha. (2019). Hubungan Kebersihan Lingkungan dan Kelembapan Udara Dengan Kejadian Kusta di Kabupaten Jeneponto. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisi Khusus 2019, 221-224.
Titi Nur Idayani, d. (2017). Analisi Spasial Faktor Resiko Lingkungan Dengan Kejadian Kusta Diwilayah Pesisir. Higea Juornal, 120-130.
Wulansari, T. A., Thohari, I., & Nerawat, A. D. (2020). HUBUNGAN HIGIENE PERORANGAN DAN KONDISI FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN PENYAKIT KUSTA (Studi Kasus di Puskesmas Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan Tahun 2019). GEMA Lingkungan Kesehatan, 25-32.
Yuni. 2015. Buku Saku Personal Hygiene.Yogyakarta :Nuha Medika
Apriliana, H. (2017). FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WONOASRI KABUPATEN MADIUN (Vol. 8). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Pramudita, B. G., Nurullita, U., & Salawati, T. (2017). Faktor Lingkungan dan Faktor Pelayanan Kesehatan yang Berhubungan dengan Kejadian Kusta di Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 5(3), 9–24.


Itulah contoh Makalah Penyakit Kusta/Lepra... mungkin ada beberaa bagian yang sengaja saya tidak tampilkan karena menurut saya inilah yang terpenting dalam makalah ini...


Jika Ada kritik atau saran silahkan sebut di kolom komentar yahh!!!!